CHAT Via WhatsApp
diposkan pada : 30-01-2021 19:56:35

Aku pernah nelangsa ketika main ke rumah teman, beberapa piala yang ada di rumah mereka katanya mau dibuang saja. Perlakuan mereka terhadap piala-piala itu memang sangat tidak pialai sekali, dibiarkan berdebu teronggok bersama barang-barang rongsokan. Dia pun berkata kalau piala-piala itu sudah lama, pun dari lomba yang menurutnya tidak prestisius, biasa saja, bukan yang bombastis menurutnya.

Sempat aku berpikir apakah perlakuanku terhadap piala-piala milik kedua anakku  lebay? Piala-piala mereka masih kusimpan rapi di lemari, meski sudah tampak mengelupas kulit luarnya, bacaannya juga ngeblur.

Bagiku, piala-piala itu berharga sekali. Kalau dinilai dari harganya, kita sendiri pun bisa membelinya sampai ratusan buah kalau mau karena saking murahnya. Tetapi perjuangan mereka untuk meraihnya tentu bukanlah mudah. Pasti belajar dengan sepenuh hati, berlatih keras dan mengabaikan waktu bermain. Setidaknya, siapapun saat hendak mengikuti sebuah even tentu berjuang  meraih nilai terbaik.

Piala dan medali terbaru yang diperoleh Rayyan dari lomba debat bahasa Inggris 

Piala ataupun piagam diberikan sebagai sebuah bentuk penghargaan penyelenggara kepada pesertanya. Piala atau piagam tersebut sebagai bukti otentik pada keikutsertaan peserta yang meraih nilai terbaik diantara peserta lainnya. Juga bisa dimaksudkan sebagai pemicu semangat kepada peserta lainnya untuk berlatih lebih giat pada kesempatan yang akan datang.

Aku tidak sanggup mengabaikan piala-piala yang diperoleh kedua anakku. Selalu teringat binar wajah-wajah bahagia mereka saat menunjukkannya pada kami. Dengan senyum bungah, berapapun peringkatnya, mereka, meski tidak terucapkan tentu bahagia saat diapresiasi oleh orang-orang terdekatnya, terutama kedua orangtua. Bohong kalau ada yang tidak bahagia saat meraih suatu peringkat, apalagi orang tersebut berjuang keras dengan sportif dan jujur.

Memang betul, piala bukanlah segala-galanya,   hanya sebuah benda mati, tetapi tidak ada salahnya kita merawat sebuah tanda mata sebagai pengingat bagi masa-masa yang akan datang. Bahwa mereka pernah menjadi seseorang yang bernilai baik pada sebuah kesempatan yang tidak semua orang bisa meraihnya. Bahwa mereka suatu hari kelak bisa menunjukkan pada keturunan mereka seperti apa masa muda orangtuanya.

Aku sangat senang bila ada yang memposting prestasinya atau pencapaian anak-anaknya. Tidak ada pikiran negatif sedikitpun, semisal menilai mereka pamer atau lainnya. Malah aku menandai dan mengingat-ingatnya, oh dia pernah meraih prestasi dari jenis even ini, wah bisa dijadikan rujukan bila suatu hari butuh info, begitu pikiranku.

Atau ada yang memberitakan bahwa anaknya nilai rapotnya bagus, bersekolah di sekolah ini, aku bisa mendapatkan rekomendasi sekolah tersebut, sistem dan cara belajarnya begini, begini..

Senang kan punya bermacam info terpercaya, langsung dari pelakunya tanpa direkayasa? Karena sebuah penilaian dari seseorang yang  merasa puas terhadap sebuah sistem itu  biasanya benar.

Aku merasa heran juga atas pernyataan-pernyataan di media sosial belakangan ini setiap menjelang rapotan anak-anak. Entah maksudnya memang tidak mau membeda-bedakan prestasi setiap orang atau kecewa pada diri sendiri karena tidak berprestasi 😄 Aku nggak paham...

Apakah kalau ada orangtua yang menunjukkan nilai-nilai rapot anaknya dia menyatakan bahwa anaknya pintar dan berbeda dengan anak Anda? Loh Anda itu siapanya, kenalkah? Abaikan sajalah, dia sedang berbahagia atas prestasi anaknya di bidang akademik. Kalau anaknya menang lomba mewarnai tentu dia memposting hasil gambar dan piala, bukan? Lalu kenapa kita yang sewot?

Aku rasa seseorang yang menunjukkan anaknya ranking berapa di kelas, 1,2 atau 3,  ya karena memang dia sedang bahagia atas pencapaian anaknya, silahkan posting pencapaian dari anak atau diri Anda sendiri, sesimpel itu kan?

Jadi belakangan aku berpikir begini, "Kamu sedang iri ya, karena tidak berprestasi apapun saat ini?"