CHAT Via WhatsApp
diposkan pada : 04-01-2021 16:26:34

Jika harus menunjuk salah satu orang paling berpengaruh di sepakbola, bolehlah saya menunjuk Jules Rimet. Pria Perancis yang namanya diabadikan menjadi trofi pertama kompetisi antarnegara ini memiliki andil yang sangat besar dalam olahraga yang menjadi favorit para manusia di kolong langit ini.

Ia bukan pemain sepakbola profesional, bahkan ia hanya diketahui sebagai pemain anggar dan pelari di masanya. Namun kecintaannya kepada sepakbola mendorongnya untuk mendedikasikan sebagian hidupnya untuk olahraga ini.

Terlahir dari orang tua yang hanya seorang pemilik toko kecil di kawasan timur Perancis pada 14 Oktober 1873. Jules Rimet kecil ikut orang tuanya bermigrasi ke Ibu Kota Perancis, Paris, pada usia 11 tahun. Ia melanjutkan pendidikannya di sana, termasuk mengikuti sekolah hukum sampai akhirnya menjadi seorang pengacara muda yang sukses di usia 24 tahun.

Selain menjadi seorang pengacara sukses, Rimet yang gemar berolahraga mendirikan klub olahraga kecil di pinggiran Kota Paris. Klub tersebut dia namai Red Star. Ia juga tak lupa menyisipkan olahraga sepakbola sebagai salah satu kegiatan klub olahraga tersebut, karena sepakbola sudah cukup populer di seantero Eropa. Dalam hal ini, sepakbola dan liga yang dimulai oleh para warga dan mahasiswa Inggris menjadi acuan Rimet memainkan sepakbola di Paris.

Aktivitasnya dalam mengelola dan mengembangkan klub tersebut membuat dirinya berkecimpung dalam lingkup organisasi yang lebih besar. Badan sepakbola Internasional, FIFA, yang berdiri pada 1904, juga ada andil dari dirinya.

Rimet bercita-cita untuk menggelar kompetisi sepakbola antarnegara di dunia lewat FIFA yang juga merupakan bentukannya tersebut. Meski pagelaran Olimpiade yang sudah terlebih dahulu hadir menyertakan sepakbola amatir dalam bagan olahraga yang dipertandingkan, Rimet menganggap perlu adanya turnamen terpisah dari Olimpiade. Namun sayang, cita-citanya tertunda akibat meletusnya Perang Dunia I pada 1914.

Cucu dari Jules Rimet, yaitu Yves Rimet, berujar bahwa perjuangan kakeknya dulu adalah murni untuk mempersatukan dunia dengan sepakbola. "Kakekku adalah seorang yang humanis dan idealis, yang percaya bahwa olahraga mampu menyatukan negara-negara yang berseteru di dunia," ujar Yves Rimet sebagaimana dikutip dari The Independent.

"Mungkin saja, jika kakekku mengetahui bahwa sepakbola saat ini didominasi bisnis dan uang, ia akan sangat kecewa karena itu bukanlah visinya dalam menjalankan olahraga ini. Karena kakekku percaya bahwa olahraga akan menumbuhkan sikap kebanggaan dari kerja keras, kejujuran dan fair play."

Kompetisi sepakbola dunia dambaan Rimet sempat menemui hambatan karena Baron Pierre de Coubertin (salah satu penggagas Olimpiade) dan federasi sepakbola Inggris (FA) menolak gagasan dari Jules Rimet. Bagi rakyat Inggris, mereka emoh bertanding dengan negara lain yang bisa jadi musuh mereka di peperangan dunia pertama. Mereka juga menganggap bahwa permainan sepakbola negara lain tak lebih baik dari Inggris yang dianggap pencetus sepakbola.

Sikap arogan Inggris ini tak membuat Jules Rimet mundur. Ia tetap menggelar turnamen dambaannya tersebut pada 1930 ketika pemerintah Uruguay menawarkan biaya perjalanan seluruh partisipan saat itu. Meski dibiayai, masih tetap saja ada yang tak setuju dari beberapa negara Eropa karena dianggap membuang-buang waktu. Perlu diketahui juga, pernyataan membuang-buang waktu itu muncul karena perjalanan antara benua masih menggunakan kapal laut sehingga perjalanan dari Eropa ke Amerika Selatan bisa menghabiskan waktu sampai puluhan hari.

Meski hanya Perancis, Belgia, Rumania, dan Yugoslavia yang menjadi perwakilan Benua Biru dalam menyongsong Piala Dunia 1930, Rimet tak surut semangatnya. Dengan tambahan sembilan negara lainnya dari Benua Amerika, Piala Dunia pertama terlaksana dan melahirkan tuan rumah Uruguay sebagai juara perdana dari kompetisi yang Jules Rimet cita-citakan dahulu.

Sebagai orang yang paling berpengaruh dalam sepakbola, sosok Jules Rimet sempat dinominasikan sebagai peraih penghargaan Nobel pada 1956, namun ia ditolak oleh salah satu juri dari Norwegia yang menganggap bahwa Jules Rimet selaku presiden FIFA dan pencetus pagelaran Piala Dunia telah gagal menghilangkan aroma politik seperti fasisme yang jelas-jelas terjadi pada pagelaran kedua Piala Dunia, di Italia 1934.

Kini, cita-cita besar Jules Rimet untuk mempersatukan dunia dengan olahraga—khususnya sepakbola—telah terjalin dengan sangat sukses. Jutaan pesepakbola hijrah dari negaranya ke negara lain untuk bermain sepakbola. Para penggemar kesebelasan dari negara tertentu dengan lantang menyanyikan dan memuja-muja pemain idolanya yang mungkin berasal dari negara lain. Begitulah sepakbola saat ini. Terimakasih atas semua jasa-jasamu, Jules Rimet!